Catatan : Abdul Firman, S.Pd., M.Si (Wasekjen Formalindo Prov. Sumut)

Usai joint meeting Forum Masyarakat Literasi Indonesia (Formalindo) dengan salah satu perusahaan perbankan di Sumut terkait rencana hibah sepeda motor pustaka melalui program CSR perusahaan itu, (Kamis, 1 Agustus 2019), saya menyempatkan diri mampir di Yayasan Pendidikan Parulian 1 Medan di Jalan Stadion Teladan No. 23, Teladan Barat, Kota Medan.

Sekolah ini hebat. Saya menyebutnya sebagai “Lokomotiv Sekolah Literasi” di Kota Medan. Sekolah ini mendeklarasikan diri sebagai sekolah literasi pada tanggal 27 Oktober 2016 yang lalu. Kegiatan deklarasi pada waktu itu dihadiri oleh Gubernur Sumut H.T. Erry Nuradi (yang diwakilkan), Konsul Amerika Serikat untuk Sumatera Mr. Juha P. Salin, Provincial Coordinator USAID PRIORITAS Sumut Agus Marwan, dan sejumlah pesohor pendidikan lainnya. Beberapa waktu berselang, Direktur USAID PRIORITAS Mr. Stuart Weston datang secara khusus dari Jakarta melakukan visitasi dan penguatan.

Prasasti deklarasi “Gerakan Literasi Sekolah”

Pasca deklarasi itu, sekolah ini menunjukkan komitmen dan konsistensinya dalam menerapkan prinsip-prinsip GLS maupun program inovasi literasi lainnya.

Sekarang buah komitmen dan konsistensi itu mulai dirasakan. Selain peningkatan prestasi di bidang akademik, secara perlahan murid-murid sekolah ini mulai memenangi berbagai event lomba literasi baik yang diselenggarakan di level kota maupun provinsi yang mereka ikuti.

Foto Deklarasi GLS, 27 Oktober 2016

Produk-produk literasi dari kegiatan-kegiatan inovatif juga mulai menampakkan hasilnya. Salah satu yang paling membanggakan adalah penerbitan buku kumpulan cerpen karya murid-murid mereka. Kegiatan penerbitan buku hasil karya siswa ini menurut saya sebagai sesuatu yang langka untuk ukuran sekolah menengah di Medan bahkan Sumut. Tapi tidak bagi Parulian, mereka hebat dan mereka melakukannya.

Penerbitan buku hasil karya murid-murid mereka saat ini sudah kali yang kedua. Sebelumnya mereka telah menerbitkan buku dengan judul “Petualangan Imaji”, sekarang buku “Rembulan yang Bersayap” sebagai buku kedua. Luar biasa!

Saat saya mampir, saya disambut Ibu Erita Siburian, Sekretaris Yayasan Pendidikan Parulian. Selain cantik, ibu ini ramah dan baik hati. Siapapun pasti senang berjumpa dengannya. Beliau seorang yang visioner dan sosok kunci dibalik suksesnya program literasi di sekolah itu.

Disambut dan disematkan pin “Literasi” oleh Sekretaris YP. Parulian Ibu Erita Siburian

Saya juga berkesempatan diajak berkeliling lingkungan sekolah oleh Ibu Leny Siahaan, Kepala SMP Parulian 1 Medan yang juga penanggung jawab program literasi di jenjang SMP. Saya diperlihatkan berbagai best practice literasi di sekolah itu. Salah satu yang paling unik adalah “Jemuran Literasi”.

Jemuran literasi

“Jemuran Literasi” adalah pajangan hasil karya literasi murid-murid di selasar sekolah. Diikat dari pilar ke pilar dengan bahan kawat atau tali layaknya jemuran pakaian kita di rumah. Selain meningkatkan keterampilan literasi, karya murid yang di pajang di jemuran literasi itu juga sebagai contoh baik bagi murid-murid lainnya. Mereka bisa saling belajar dan mengkoreksi hasil karyanya. Mungkin di sekolah lain tidak ditemukan inovasi semacam ini.

Diujung kegiatan mampir itu, saya diberi oleh-oleh buku “Rembulan yang Bersayap” dan disematkan pin literasi oleh Ibu Erita. Alhamdulillah rezeki anak sholeh, selain dapat buku gratis, saya juga bisa berfoto dengan ibu yang baik dan cantik ituā€¦hihihiii.

Dapat oleh-oleh buku dari Sekretaris YP. Parulian Ibu Erita Siburian

Semoga apa yang dibuat oleh Yayasan Pendidikan Parulian Medan bisa menjadi contoh baik dan menginspirasi sekolah-sekolah yang lain. Mereka sudah membuktikannya, yang lain kapan lagi?

Salam Literasiā€¦!!!