NIAS SELATAN | ARUSMALAKA.COM

Dugaan janji manis dari Hilarius Duha calon Bupati petahana Nias Selatan (Nisel) mulai terungkap. Kali ini datang dari warga Desa Sarahililaza dan Desa Harenoro Kecamatan Lahusa Kabupaten Nisel.

Akses jalan menuju desa tersebut cukup parah, hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, mengingat medan yang ditempuh cukup ekstrim. Tebing dan jurang ditambah jalan yang masih bebatuan campur tanah membuat pengguna jalan harus ekstra hati-hati bila melewati jalan tersebut.

Salah seorang warga Elihati Laia yang akrab di sapa Ama Ama Ifan Laia juga mantan Kades Sarahililaza mengatakan kepada awak media, Kamis (12/11/2020), bahwa Bupati petahana Hilarius Duha pada orasi politiknya sewaktu mencalonkan Bupati Nisel pada tahun 2015, di depan masyarakat Desa Harenoro dan Sarahililaza, Hilarius Duha berjanji akan mengaspal jalan 1 km per tahun mulai dari sungai Ri’i sejauh 5 km selama 5 tahun menjabat Bupati Nias Selatan.

Dia mengungkapkan, jalan menuju Desa Harenoro dan Sarahililaza sering kena banjir ketika melewati sungai Ri’i ketika musim hujan. Warga harus ekstra hati-hati untuk menyebrangi sungai tersebut dan menjadi momok yang menakutkan yang dapat mengancam keselamatan jiwa manusia.

Sungai Ri’i merupakan akses jalan utama kedua desa bila bepergian ke pasar, maupun urusan lain ke Kota Kabupaten Nisel di Telukdalam.

Penuturan mantan Kepala Desa Sarahililaza itu, jembatan yang telah dijanjikan akan dibangun, baik pihak pemerintah daerah Kabupaten Nisel maupun instansi terkait seperti Kimpraswil, serta mantan anggota Dewan yang terhormat hanya meninjau dan melihat lalu pergi, dimana sampai hari ini tidak pernah disentuh oleh pembangunan.

“Yang lebih parahnya lagi masalah penerangan lampu listrik dari PLN yang telah dijanjikan oleh Bupati petahana Hilarius Duha pada kampanye tahun 2015, tapi hingga hari ini janji itu tinggal janji,” katanya.

“Hilarius hanya mengelabui untuk meraih suara pada waktu itu, memuluskan keinginan sebegitu Bupati dan setelah berkuasa, janji untuk membangun jembatan, listrik, dan pengaspalan hanya mimpi belaka,” imbuhnya.

Elihati Laia menilai Hilarius haus kekuasaan, soal urusan janji-janji kepada rakyat itu urusan belakangan yang penting tercapai hasrat dan keinginannya.

“Ini menjadi tolak ukur sebagai pemimpin yang tidak komit dengan janji, membiarkan masyarakatnya tersiksa dan terisolir, kami tidak mau lagi dibodoh-bodohi oleh calon pemimpin yang tidak konsekuensi dan hanya umbar janji,” tandas Elihati Laia.

(Afrianus Wau)