NIAS SELATAN | ARUSMALAKA.COM

Pada saat Kabupaten Nias Selatan (Nisel) dimekarkan dari Kabupaten Nias, hanya ada 8 kecamatan yakni Telukdalam, Lahusa, Gomo, Amandraya, Lolowau, Lolomatua, Pulau-Pulau Batu, Hibala yang terdiri 212 desa dan 2 kelurahan.

Namun seiring berjalannya waktu, para pemimpin di Nisel bertekad mengupayakan pemekaran desa dan kecamatan yang bertujuan untuk menciptakan peluang-peluang kemajuan dimasa mendatang.

Seperti yang dilakukan Idealisman Dachi Bupati Nisel ke-2, dengan penuh tekad ia berhasil memekarkan dari 18 kecamatan menjadi 35 kecamatan serta dari 354 desa menjadi 459 desa.

Tentu saja hal itu bukan pekerjaan yang mudah, perlu konsentrasi penuh, kekuatan jaringan dan pendukung lainnya. Apa yang dilakukan Idelaisman Dachi itu untuk mewujudkan terbukanya peluang kesuksesan dari berbagai aspek.

Tentu saja, pemekaran yang telah dilakukan pemimpin terbaik Nisel itu membawa berkah bagi masyarakat. Setelah mekar, pemerintah pusat menggelontorkan Dana Desa di Nisel yang mencapai ratusan miliar per tahun diterima oleh pemerintah desa untuk membenahi infrastruktur desa, pemberdayaan masyarakat yang tentunya berdampak pada geliat ekonomi.

Di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Kabupaten Nisel merupakan wilayah yang mendapatkan alokasi besar bahkan lebih banyak dari kabupaten lainnya, karena pemberian anggaran dari pusat adalah berdasarkan jumlah desa dan warganya.

Drs Tehearo Bawamenewi yang akrab di panggil Ama Yaman Bawamenewi mengatakan kepada arusmalaka.com Senin, (26/10/2020), bahwa ini merupakan berkat bagi masyarakat, dengan adanya terobosan dari Idealisman Dachi itu, program pusat dapat disambut dengan baik.

Menurutnya, pemimpin memang harus memiliki jiwa dan karakter visioner yang memikirkan bagaimana nasib rakyatnya ke depan, tentunya dengan melakukan berbagai cara yang cerdas dan berani.

“Pemimpin bukan hanya duduk tenang dibalik meja, hanya mengelola anggaran yang sudah ada dan berpangku tangan merenungi nasib tanpa ada terobosan. Pemimpin seperti itu tidak layak dipertahankan, hanya memikirkan keuntungan pribadi, kenyamanan keluarga akan tetapi tidak peduli dengan jeritan rakyatnya yang membutuhkan perhatian,” kata Tehearo.

“Pemimpin yang berlindung dibalik slogan sederhana namun sesungguhnya menimbun harta, adalah merupakan pemimpin egois, mengorbankan rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompok dan kroninya,” imbuhnya.

Tehearo menambahkan, bahwa sudah saatnya rakyat bergerak menolak cara-cara penjajahan seperti itu dan mendukung pemimpin yang benar-benar pro rakyat dan sudah teruji dan terbukti memperjuangkan rakyat.

(Afrianus Wau)