SERDANG BEDAGAI | ARUSMALAKA.COM

Seorang oknum pedagang bebek yang bernama Marsam alias Sam (50) warga Dusun II Desa Pematang Pelintahan Kecamataan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) diringkus Team Anti Bandit (Tekab) Polres Sergai dikediamannya, Senin (8/6/2020) sekitar pukul 16.00 Wib.

Tersangka Marsam diduga menipu korbannya Sukisno (49) warga Dusun IV desa yang sama dengan dalih bisa memasukan anak korban yang bernama Setiawan (21) menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kapolres Sergai AKBP Robin Simatupang yang dikonfirmasi media, Selasa (9/6/2020) membenarkan penangkapan terhadap tersangka Marsam. Dia menjelaskan, bahwa, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2018 yang lalu saat korban Sukisno mendatangi rumah tersangka Marsam ingin  memasukkan anaknya menjadi TNI. Marsam menyanggupi dan menyakinkan korban dengan cara menghubungi temannya yang tinggal di Medan dan meminta Rp.100 juta untuk biasa pengurusan.

Setelah sepakat, Sukisno menyerahkan uang kepada tersangka sebanyak dua tahap. Pertama korban menyerahkan uang sebesar Rp.30 juta dan pada tahap kedua sebesar Rp.70 juta.

Namun anak korban gagal diterima menjadi anggota TNI. Korban menghubungi tersangka untuk mempertanyakan perihal gagalnya anak korban. Tersangka berdalih bahwa anak korban kalah saat seleksi jasmani. Dia berjanji akan mengembalikan uang korban. Tersangka pun mengembalikan uang korban hanya Rp.59 juta, sisanya tetap akan dikembalikan.

Setelah ditunggu, tersangka tak kunjung melunasi sisa pengembalian uang kepada korban. Lalu Sukisno melaporkan kejadian tersebut ke Polres Sergai sesuai dengan Laporan Polisi Nomor :LP/17/I/2020/SU/RES SERGAI tanggal 10 Januari 2020.

Saat diinterogasi petugas, tersangka Marsam mengaku belum bisa mengembalikan sisa uang tersebut karena habis untuk membuat warung di daerah Aceh. Karena bangkrut tersangka kembali ke Sei Rampah dan menjadi pedagang bebek.

“Tersangka tengah menjalani pemeriksaan yang dilakukan oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Sergai. Dia dikenakan pasal 378 atas pasal 372 KUHPidana dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” sebut Robin.

(Dipa Syahbuana)