Oleh : Khairuddin Noor Hasibuan

PENGANTAR
Jurnal ini bertujuan untuk menguraikan tentang pentingnya menjaga moderasi beragama ditengah pandemi covid-19 khususnya di Kota Tebing Tinggi sebagamana wilayah kerja Penyuluh yang saya lakukan. Pendekatan yang digunakan adalah sosial keagamaan dengan melihat fakta-fakta yang terjadi di masyarakat. Hasil pemahaman menunjukkan bahwa prioritas moderat dalam beragama pada masa pandemi covid-19 menjadi sebuah keharusan. Untuk itu, umat sebaiknya lebih memahami menjaga keselamatan diri dan masyarakat luas lebih utama karena tidak ada alternatif lain dibandingkan dengan memaksakan kehendak untuk melaksanakan ibadah di masjid atau di rumah ibadah lainnya. Hukum Islam memberikan pilihan rukhsah ketika umat dalam kondisi sulit atau meninggalkan salat di masjid. Di sisi lain, umat dituntut untuk lebih memahami fikih di tengah wabah covid-19 dengan tidak meninggalkan fikih konvensional.

Untuk itu, membangun moderasi beragama pada saat atau pasca pandemi covid 19 menjadi sebuah keharusan terutama relasi antara manusia dengan cara menghindari dan memutus penularan virus tersebut dengan berbagai cara. Pembiasaan diri untuk menerima sesuatu yang ditimbulkan oleh covid 19 dari berbagai aspek terutama pembiasaan beribadah umat. Pertimbangan kaidah menghindari kemudaratan lebih utama dibanding melaksanakan maslahat menjadi cara dalam Islam untuk tetap menjaga moderasi beragama.

PENDAHULUAN
Beberapa waktu belakangan, dunia dikejutkan dengan pandemi virus corona yang melanda manca negara, begitupun Indonesia. Tidak ada yang menyangka bahwa virus corona tersebut mengguncang segala aspek lini sosial kehidupan manusia. Umat manusia terkejut dengan dampak yang ditimbulkan oleh virus tersebut. Bahkan, setiap negara memiliki kebijakan tersendiri dalam menghadapi situasi pandemi ini. Covid 19 menjadi bencana global yang tidak memilih targetnya berdasarkan pertimbangan agama, suku dan budaya serta aliran. Setiap person berpotensi terjangkit apabila kualitasi tubuh tidak kuat, tidak menerapkan pola hidup sehat atau tidak menjaga jarak (phsysical distancing).

Oleh karena itu, virus tersebut ciptaan Allah yang kemungkinan dapat menyasar seluruh hamba-hamba-Nya, baik yang menjalankan kesalehan spritual maupun tidak. Kesalehan spritual tidak menjadi suatu jaminan akan terhindar dari covid 19 tersebut. Allah swt. berfirman dalam QS al-Anfal / 8: 25: Artinya : Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja diantara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras. (Kementerian Agama, 2004:).

Dampak virus corona yang paling mencolok dalam kehidupan keberagaman di Kota Tebing Tinggi, lebih khusus umat Islam. Adanya penerapan sosial distancing (jaga jarak) memaksa pemerintah untuk memberikan anjuran untuk sementara waktu mesjid tidak digunakan seperti sedia kala, menggulung ambal, menjaga jarak, membuat tanda silang dan menyediakan alat cuci tangan. Fakta ini tentu menimbulkan polemik ditengah masyarakat. Sebagian memahami bahwa penutupan tempat ibadah karena virus corona tersebut sesuatu yang seharusnya dan sewajarnya, tetapi sebagian yang lain mengesampingkan dampak dari virus corona dengan menyayangkan penutupan tempat ibadah tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan fakta-fakta itu, perlu dipahami lebih jauh lagi bahwa dalam situasi pandemi seperti ini di luar nalar dan jangkauan umat itu sendiri.

Moderasi beragama menjadi sesuatu yang mutlak dimaksimalkan dalam menghadapi dampak situasi yang tidak normal tersebut. Masyarakat harus mampu bersikap moderat dalam menjalani kehidupan keberagamannya, bukan dengan memberikan propaganda di berbagai aspek, misalnya memberikan status tertentu di media sosial miliknya.

Moderat menjadi sebuah kata yang seringkali disalahartikan dalam kehidupan sosial beragama di Indonesia. Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa orang yang moderat tidak memiliki keteguhan dalam pendirian, tidak serius, bahkan tidak menjalankan ajaran agama dengan sungguh-sungguh.

Moderat disalahartikan dengan sebagai kompromi keyakinan secara teologi antara satu agama dan agama yang lain. Moderat harus dipahami dengan percaya diri terhadap ajaran agama yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang yang mengarahkan pada kebenaran pada tujuan subtantif dari agama itu sendiri.

Berdasarkan iniah penulis mensosialisasikan Moderasi Beragama ditengah pandemi sebgai Penyuluh Agama Islam di Kota Tebing Tinggi agar masyarakat dapat memahami dan memaknainya.

PEMBAHASAN
Pentingnya Moderasi Beragama ditengah pandemi Kementerian Agama gencar menggaungkan dalam memberikan pemahaman dan mengamalkan agar ajaran agama dijalankan dengan tidak ekstrim. Program moderasi tersebut sudah mulai terlihat dan terasa dampaknya. Walaupun demikian, gejala terjadinya konflik internal dalam satu umat agama masih dirasakan.

Moderasi beragama dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi ditengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem, baik ekstim kanan maupun ekstrim kiri dalam beragama masyarakat membutuhkan sebuah cara pandang, sikap, dan perilaku beragama tertentu itu tergolong moderat atau ekstrem. Ukuran tersebut dapat diperbaiki dengan berlandaskan pada sumber-sumber terpercaya, seperti nas agama (Alquran dan sunah), aturan dalam konstitusi negara, kearifan lokal pada suatu tempat dan kesepakatan bersama yang terjadi dalam bentuk konsensus.

Kebiasaan masyarakat, lebih khusus di Indonesia adalah melakukan kegiatan-kegiatan doa massal di masjid ataupun di tempat lain. Akan tetapi, kegiatan doa-doa massal tersebut ditengah pandemi covid 19 sebaiknya dibatasi dan dikurangi. Kita tidak menginginkan bahwa doa-doa massal tidak menolong justru menjadi penyebab penularan wabah covid 19 mungkin dapat dipahami secara logis oleh sebagian kalangan.

Bahkan, Indonesia sebagai negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan yang Maha Esa, kegiatan doa-doa massal sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warga negara. Umat membutuhkan pendekatan khusus dalam melakukan edukasi agar tidak terjadi konflik internal umat dalam satu agama atau antar agama dalam menghadapai wabah covid 19, salah satunya dengan lebih aktif lagi mensosialisasikan gerakan moderasi beragama.

Kementerian Agama mengambil peran dalam menghadapi pandemi covid 19 dengan berbagai kebijakan yang tujuan utamanya berdasarkan moderasi beragama. Misalnya, edaran Menteri Agama Nomor : SE. 1 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Rumah Ibadah. Edaran yang berisi tentang pentingnya mencegah penyebaran covid 19 di rumah ibadah dengan mengajak jajaran instansi di bawah Kementerian Agama untuk mensosialisasikan dan mensinergikan edaran tersebut ditengah masyarakat. Edaran tersebut subtansinya mengajarkan masyarakat untuk lebih mengutamakan sikap moderasi dalam menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Pada sisi yang lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga independen yang mengayomi umat Islam di Indonesia telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang secara langsung dapat menghambat penyebaran wabah. Meskipun demikian, MUI harus bekerja keras lagi dalam lebih mencerdaskan umat tentang pentingnya konteks moderasi beragama, agar fatwa-fatwa yang dikeluarkan tidak menyisakan konflik ditengah masyarakat bahkan mungkin akan lebih baik lagi jika dapat merangkul semua kalangan sesuai kondisi yang ada.

Peran Penyuluh Agama Islam Dalam Mensosilaisasikan Moderasi Beragama Di Kota Tebing Tinggi

Peran Penyuluh Agama Islam sebagai ujung tombak dalam mensosialsisasikan Moderasi Bergama ditengah pandemi covid 19 dengan melakukan penjelasan-penjelasan kepada masyarakat yang memang dalam situasi dua keberadaannya sangat kontradiktif secara hukum islam, seperti dalam menjaga jarak dalam sholat dan kita juga mengarahkan kepada Moderasi Beragama tentu banyak mengalami tantangan dan tanggapan miring dari masyarakat. Hal inilah yang terus penulis lakukan dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar terus tetap dapat memahami Moderasi Beragama terutama ditengah pandemi saat sekarang ini yang kita juga belum tahu kapan berakhirnya.

Adapun hal-hal yang penulis lakukan dalam mensosialisasikannya yakni :

Penanaman Konsep Moderasi Beragama Bagi Para Penyuluh Agama Islam PNS dan Non PNS di Kota Tebing Tinggi.

Hal ini dilakukan agar para penyuluh agama islam dibawah naungan Kementerian Agama Kota Tebing Tinggi dapat satu visi dalam mensosialisasikan kepada masyarakat dibawah binaan, maupun dalam kegiatan dakwah yang dilakukan penyuluh tersebut ditengah-tengah masyarakat. Artinya bahwa Penyuluh Agama Islam sudah faham dan tahu maksud dari Moderasi Beragama sebagai agen pemerintah dalam pembangunan dibidang Agama;

Sosialisasi Kepada Majlis Taklim Binaan

Dalam mensosialisasikan kepada Binaan Majlim Taklim sangat efektif dan langsung tatap muka, apalagi Binaan Majlis Taklim ini adalah merupakan jamaah yang rutin dan selalu tetap komunikasi dalam setiap pengajian;

On Air Melalui Radio DIS FM 93.5

Penggunaan media tekhnologi radio di Kota Tebing Tinggi sangat efektif, apalagi saat ini radio yang ada di Kota Tebing Tinggi hanya satu yakni Radio DIS FM , sehingga masyarakat dalam mendengarkan siaran radio hanya pada satu saluran saja. Apalagi tatkala di ramadhan kemarin sambil menunggu azan berbuka, dilakukan tausiah sebelum berbuka yang dikoordinir oleh Pokjaluh Kota Tebing Tinggi dalam hal ini penulis, sehingga dapat memasukkan keterkaitan moderasi beragama. Begitu juga setiap Jumat pagi dilaksanakan siaran On Air Cahaya Islam yang juga diprakarsai oleh Penyuluh Agama Islam dan momen ini selalu kita kaitkan dengan Moderasi Beragama dalam bernegara dan berbangsa selaku pemeluk umat beragama di Kota Tebing Tinggi umumnya dan khususnya bagi sebagian warga Sergai, Pematang Siantar, Simalungun dan Asahan dalam jangkauan siaran radio tersebut;

Membentuk Forum Shilaturrahmi BKM Masjid se Kota Tebing Tinggi dengan Dewan Masjid Indonesia Kota Tebing Tinggi dan Pokjaluh Kota Tebing Tinggi

Forum ini merupakan perkumpulan para BKM se Kota Tebing Tinggi yang tidak lain agar dapat bersilaturrahmi dalam hal ketrkaitan dengan masjid, managemen dan informasi, dalam kegiatan ini dilakukan satu bulan sekali bertempat di Masjid Agung Kota Tebing Tinggi yang dimulai dari Magrib sampai dengan Isya. Dari sini kita bersama DMI menjelaskan dan penerapan hal-hal yang berkaitan dengan Moderasi Beragama ditengah pandemi di Kota Tebing Tinggi yang selalu tetap kita ingatkan, dan ini momen yang sangat efektif dengan berkumpulnya para pengurus BKM Masjid se Kota Tebing Tinggi;

Dialog / Muzakarah bersama MUI, FKUB,DMI dan Pokjaluh dalam Memahami Moderasi Beragama / Islam Washotiyah

Melaksanakan Muzakarah Bersama MUI, FKUB, DMI dan Pokjaluh dalam membahas pemahaman Islam Washotiyah yang mengarah pada Moderasi Beragama, agar ada bahan masukan-masukan dan menjadi pendalaman bersama dalam memaknai Moderasi Beragama. Untuk meningkatkan sikap moderat umat dalam beragama, harus mengikuti anjuran pemerintah dan fatwa-fatwa ulama, baik ulama dunia maupun MUI. Nilai moderasi menjadi karakteristik fatwa ditengah hegemoni paham ekstrimis dan radikal. Karakteristik fatwa yang mengandung nilai moderasi tetap membutuhkan pemikiran ulang yang serius;

Gelar Doa Bersama Unsur Pemerintah dan Masyarakat

Acara gelar doa bersama dengan unsur pemerintah dan masyarakat di Masjid Agung Kota Tebing Tinggi yang langsung dihadiri oleh Walikota Tebing Tinggi Bapak Ir.H.Zunaidi Hasibuan,MM dengan pelaksanaan kegiatan langsung oleh Penyuluh Agama Islam dengan harapan pandemi berakhir dan umat dapat melaksanakan aktfitas ibadah seperti biasanya, sehingga tidak ada prasangka-prasangka terhadap pemerintah dalam hal ibadah dilarang ataupun dihambat-hambat pelaksanaannya.

Melaksanakan Media Sosial

Saat sekarang ini ditengah pandemi, digitalisasi sangat efektif dalam mensosialisasikan kepada masyarakat, terutama dalam hal Moderasi Beragama. Dan ini penulis terus menghimbau kepada masyarakat agar tetap menjaga kerukunan, toleransi dan tidak terpengaruh dengan hoaks-hoaks yang mengakibatkan perpecahan, kebencian, permusuhan dan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain;

Penasihatan Perkawinan Bagi Catin

Dalam Bimbingan Penyuluhan bagi Calon Pengantin (Catin), selain memberikan pengertian tentang dalam hal rumah tangga dalam mewujudkan keluarga sakinah, juga penulis mensosialisasikan Moderasi Beragama, karena Catin ini nantinya juga akan berinteraksi social ditengah-tengah masyarakat, jadi bagaimana dia dapat memahami dan mengerti bahwa keberagaman dalam beragama , budaya, suku dijadikan sebuah khasanah keindahan dengan corak kehidupan.

KESIMPULAN
Setiap orang lebih khusus umat Islam harus prioritas sikap moderat dalam beragama pada masa pandemi covid 19 karena menjadi sebuah keharusan. Untuk itu, umat sebaiknya lebih memahami menjaga keselamatan diri dan masyarakat luas lebih utama karena tidak ada alternatif lain dibandingkan dengan memaksakan kehendak untuk melaksanakan ibadah di masjid atau di rumah ibadah lainnya. Hukum Islam memberikan pilihan rukhsah ketika umat dalam kondisi sulit atau meninggalkan shalat di masjid.

Di sisi lain, umat dituntut untuk lebih memahami fikih ditengah wabah covid 19 dengan tidak meninggalkan fikih konvensional. Untuk itu, membangun moderasi beragama pada saat atau pasca pandemi covid 19 menjadi sebuah keharusan terutama relasi antara manusia dengan cara menghindari dan memutus penularan virus tersebut dengan berbagai cara.

Pembiasaan diri untuk menerima sesuatu yang ditimbulkan oleh covid 19 dari berbagai aspek terutama pembiasaan beribadah umat. Pertimbangan kaidah menghindari kemudaratan lebih utama dibanding melaksanakan maslahat menjadi cara dalam Islam untuk tetap menjaga moderasi beragama.

*Jurnal ini disampaikan dalam pelaksanaan Lomba Penyuluh Teladan Tk Propinsi Sumatera Utara yang Dilaksanakan oleh Kementerian Agama